WASHINGTON, iNEWSDEMAK.ID - Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent memperingatkan negara-negara yang terkena penerapan tarif untuk tidak membalas dendam. Jika hal itu terjadi, ia mengatakan ada kemungkinan tarif meningkat.
"Saya tak menyarankan negara mana pun untuk panik. Saya tidak akan mencoba membalas, karena selama Anda tak membalas, ini adalah angka tertinggi yang dikenakan" kata Bessent dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg dikutip iNews.id.
Bessent yakin pasar dapat yakin tarif yang ditetapkan ini bisa diperbaiki selama tidak ada balas dendam yang terjadi. Diketahui, sejumlah negara berusaha untuk bernegosiasi, tetapi semua tergantung pada Presiden Donald Trump belakangan ini.
"Saat ini, saran saya kepada setiap negara adalah untuk tidak membalas. Mari kita lihat bagaimana keadaannya, karena jika Anda membalas, keadaan akan meningkat," tutur dia.
Sebagai informasi, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah menandatangani instruksi presiden pemberlakukan tarif masuk terbaru. Dari 180 negara, sebanyak 85 di antaranya dikenakan tarif dengan 10 persen ke atas.
Kamboja menjadi negara paling terdampak perang dagang dengan AS karena besaran tarifnya paling besar yakni 49 persen, disusul dengan Laos dan Madagaskar, masing-masing 47 persen.
Editor : Arto Ary
Artikel Terkait